Lagi iseng cari lagu anak-anak buat di download…. eh malah dapet buletin board nih di internet… isinya lucu banget.. tentang analisa lagu anak-anak Indonesia…
Rahasia kemerosotan moral, mental dan intelektual rakyat ternyata bukan sekadar karena kita dipecundangi Perusahaan Dagang Belanda selama 350 tahun, tapi juga disempurnakan pula oleh represi rezim Orde Baru melalui berbagai cara. Sejak usia dini kita sudah didoktrin dengan lagu2 yang tidak bermutu dan mengandung banyak kesalahan logika, mengajarkan kerancuan, dan menurunkan motivasi. Mari kita buktikan.
- Balonku. “Balonku ada 5… rupa-rupa warnanya… merah, kuning, kelabu.. merah muda dan biru… meletus balon hijau, dorrrr!!!” Nah loh…. kok ada warna hijaunya? jadinya balonnya kan ada , bukan 5!
- Aku Seorang Kapiten. “Aku seorang kapiten… mempunyai pedang panjang…kalo berjalan prok..prok..prok… aku seorang kapiten!” Perhatikan di bait pertama dia cerita tentang pedangnya, tapi di bait kedua dia cerita tentang sepatunya (inkonsistensi). Harusnya dia tetap konsisten, misal jika ingin cerita tentang sepatunya seharusnya dia bernyanyi : “mempunyai sepatu baja(bukan pedang panjang)… kalo berjalan prok..prok..prok..“nah, itu baru klop! jika ingin cerita tentang pedangnya, harusnya dia bernyanyi : “mempunyai pedang panjang… kalo berjalan ndul..gondal..gandul.. atau srek..srek.. srek..” itu baru sesuai dg kondisi pedang panjangnya!
- Bangun Tidur. “Bangun tidur ku terus mandi..tidak lupa menggosok gigi.. habis mandi ku tolong ibu.. membersihkan tempat tidurku..” Perhatikan setelah habis mandi langsung membersihkan tempat tidur. Lagu ini membuat anak-anak tidak bisa terprogram secara baik dalam menyelesaikan tugasnya dan selalu terburu-buru. Sehabis mandi seharusnya si anak pakai baju dulu dan tidak langsung membersihkan tempat tidur dalam kondisi basah dan telanjang bulat!
- Naik-naik ke Puncak Gunung. “Naik-naik ke puncak gunung.. tinggi.. tinggi sekali.. kiri kanan kulihat saja.. banyak pohon cemara..” Lagu ini dapat membuat anak kecil kehilangan konsentrasi, semangat dan motivasi! Pada awal lagu terkesan semangat akan mendaki gunung yang tinggi tetapi kemudian ternyatas etelah melihat jalanan yg tajam mendaki lalu jadi bingung dan gak tau mau ngapain, bisanya cuma noleh kekiri ke kanan aja, gak maju2!
- Naik Kereta Api. “Naik kereta api tut..tut..tut..siapa hendak turut ke Bandung.. Sby..bolehlah naik dengan naik percuma..ayo kawanku lekas naik.. keretaku takberhenti lama” Nah, yg begini ini yg parah! Mengajarkan anak- anak kalo sudah dewasa maunya gratis melulu. Pantesan PJKA rugi terus! terutama jalur Jakarta-Bandung dan Jakarta-Surabaya!
- Burung Kutilang. “Di pucuk pohon cempaka.. burung kutilang berbunyi.. bersiul2 sepanjang hari dg tak jemu2.. mengangguk2 sambil bernyanyi tri li li..li..li..li..li..” Ini juga menyesatkan dan tidak mengajarkan kepada anak-anak akan realita yang sebenarnya. Burung kutilang itu kalo nyanyi bunyinya cuit..cuit..cuit..! kalo tri li li lili itu bunyi kalo yang nyanyi orang,bukan burung!
- Belalang Kupu-kupu. “Pok ame ame.. belalang kupu2..siang makan nasi, kalo malam minum susu..” Ini jelas lagu dewasa bukan untuk konsumsi anak2! karena yg disebutkan di atas itu adalah kegiatan orang dewasa, bukan anak kecil. Kalo anak kecil, karena belom boleh maem nasi, jadi gak pagi gak malem ya minum susu!
- Nina Bobo. “nina bobo oh nina bobo kalau tidak bobo digigit nyamuk” menurut psikolog: Perkembangan jiwa anak-anak pasti tidak stabil karena sekian tahun anak-anak Indonesia diajak tidur dengan lagu yg penuh nada mengancam. Wajarlah ketika besar, mereka cenderung jadi psikopat dan koruptor tanpa belas kasih.
- Bintang Kecil. “Bintang kecil dilangit yg biru…” (Bintang khan adanya malem,lah kalomalem bukannya langit item?)
- Ibu Kita Kartini. “Ibu kita Kartini…harum namanya.” (Namanya Kartini atau Harum? Ini penyesatan informasi, bisa berujung fitnah dan pencemaran nama baik. Itulah kenapa dunia ibu-ibu kita suka dengan gosip.)
- Naik Delman. “Pada hari minggu..naik delman istimewa kududuk di muka.” (Nah, gak sopan khan..? masa duduk di muka?)
- Menanam Jagung. “Cangkul-cangkul ,cangkul yangdalam, menanam jagung dikebun kita…” (kalo hanya mau nanam jagung, ngapain dalam-dalam emang mo bikin sumur?

